RESUME (Al-Maqmat dan Al-Ahwal :Definis, Pondasi dan Hirarki Maqamat)

IDENTITAS
Nama                           : Muhammad Sabrino Raharjo
NIM                            : 72154050
Prodi/Sem.                  : Sistem Informasi 1/ Semester 3
Fakultas                       : Sains dan Teknologi
PerguruanTinggi          : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
DosenPengampu         : Dr. Ja’far, M.A
Matakuliah                  : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Al-Maqamat dan Al-Ahwal (Definisi,Pondasi,dan Hirarki)

BUKU 1                     : Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi)
IdentitasBuku            : Ja’far, GerbangTasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 :Definisi
Dirangkum menurut Ja’far(2016:48-52):
Al-Maqamat dan Al-Ahwal adalah dua topik pembahasan tentang ilmu tasawuf yang saling berkaitan dan tidak dapat dibahas secara terpisah. Kedua istilah ini memiliki keterkaitan erat tentang pengertian dan maksud dari isi yang terkandung dalam kedua istilah ini.
Al-Thusi dalam kitab al-Luma’ menyebutkan :
Al-Maqamat adalah tingkatan seorang hamba dengan Allah Swt. yang dibangun atas dasar pelaksanaan ibadah , mujahadah, riyadhah dan kebersamaan dengan-Nya(dikutip dari.
Al-Ahwal adalah keadaan hati (qalb)  seorang muslim pada masing – masing tingkatan al-Maqamat dalam proses nya sebagai akibat dari kemurnian zikirnya(Ja’far,Gerbang Tasawuf:2016,48).
Dari pendapat seorang sufi tersebut telah jelas bahwa Maqamat diibaratkan sebuah pos pemberhentian yang dibangun seorang hamba dalam perjalanan nya menuju kedekatan kepada Allah Swt. dan al-Ahwal merupakan sebuah kondisi ataupun keadaan hati seorang hamba dalam menjalani beberapa tingkatan spiritual tersebut.
Dikutip dari pendapat seorang sufi , konsep perjalanan spiritual dari diri manusia menuju kedekatan bersama Allah Swt. (sebagai makna dari gerak menaik wujud [jiwa]) dengan terlebih dahulu mendeskripsikan proses kemunculan manusia dari hakikat wujud(sebagai makna dari gerak menurun wujud). Inilah makna dari pernyataan agama bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya(Ja’far,Gerbang Tasawuf : 2016,52).

Sub 2 :Pondasi Al-Maqamat
Dalam pengertian nya pondasi merupakan sebuah awal dasar yang menjadi landasan ataupun dasar penguat dari sesuatu hal, baik itu secara bentuk bangunan fisik maupun secara bentuk bangunan rohani. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah juga dapat dikategorikan sebagai sebuah bangunan yang terdiri dari beberapa struktur anggota tubuh. Dan sebagai penguat dan penggeraknya ialah adanya ruh dalam tubuh manusia yang disebut juga dengan jiwa.
Perjalanan jiwa menuju kesucian nya untuk dapat sampai kepada sang maha pencipta, telah dijelaskan sebelumnya yakni memiliki beberapa tingkatan pos pemberhentian sementara dalam rangkaian perjalanannya. Rangkaian perjalanan (maqamat) ini memiliki dasar ataupun pondasi sebagai penguat jiwa manusia dalam menempuh berbagai tingkatan yang ada untuk sampai kepada tingkatan yang paling tinggi.
Disebutkan dalam buku Gerbang Tasawuf  karya Dr.Ja’far,M.A , pondasi dari Al-Maqamat ini terdiri atas dua jenis, yakni Khalwah dan uzlah. Khalwah dalam arti kata menyepi adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan al-Haqq dan merupakan perjalanan rohani dari nafsu menuju hati, dari hati menuju ruh, dari ruh menuju alam rahasia, dari alam rahasia menuju Allah Swt. Sedangkan Uzlah mengasingkan diri menjaga keselamatan diri dari niat buruk orang lain(Ja’far,2016:53).
Kedua pondasi awal yang disebutkan diatas adalah dasar yang harus dilakukan seorang muslim untuk mendapatkan setiap maqam (tingkatan) yang tersedia dengan serangkaian kegiatan ibadah – ibadah dan amalan – amalan agama yang haru senantiasa dilaksanakan secara rutin untuk mencapai tujuan maqam yang tertinggi.

Sub 3 :Hirarki Al-Maqamat
Hirarki secara umum dapat diambil kesimpulan bahwasanya merupakan sebuah rentetan secara berurut yang menggambarkan suatu tingkatan dari pada sebuah pokok istilah yang saling berkaitan mulai dari tingkatan dasar paling awal sampai kepada tingkatan tertinggi.
Salah satu topik bahasan ilmu tasawuf , yakni Al-Maqamat juga memiliki beberapa tingkatan sesuai dengan definisinya yakni sebuah tangga (tingkatan) pendakian perjalanan spiritual seorang muslim menempuh tujuan tasawuf sampai kepada kesucian jiwa yang sesungguhnya.
Menurut Ja’far(2016:56-57) dalam bukunya Gerbang tasawuf , disebutkan bahwa seorang tokoh bernama Abi Nashr Abd Allah ibn Ali al-Sarraj al-Thusi(w.988 M) telah menyusun beberapa tingkatan maqamat mulai dari maqam pertama sampai kepada maqam paling puncak. Susunan maqam tersebut ialah sebagai berikut :
1.      Al-Taubah
Tingkat pertama maqam yang dimulai dari taubat akan perbuatan dosa.
2.      Wara’
Mulai berhati – hati dan semakin taat kepada perintah Allah.
3.      Zuhud (al-Zuhud)
Meninggalkan kehidupan keduniawian secara perlahan – lahan .
4.      Kefakiran (al-Faqr)
Menghentikan produksi konsumsi yang secara berlebih menjadi sangat sedikit.
5.      Sabar (al-Shabr)
Menahan diri dari segala sesuatu yang berpotensi negatif
6.      Tawakkal (al-Tawakkul)
Mempercayakan segala sesuatunya hanya kepada Allah Swt.
7.      Cinta (al-Mahabah)
Seperti arti cinta yakni mencintai Allah dengan kesungguhan hati.
8.      Ridha (al-Ridha).
Senang dan puas menerima segala apa yang telah diberikan allah.

Kesimpulan
            Al-Maqamat dan Al-Ahwal adalah dua istilah yang saling berkaitan satu sama lain. Al-Maqamat bercerita tentang tingkatan – tingkatan yang akan diraih oleh seorang muslim dalam perjalanannya menuju seorang sufi. Sedangkan al-ahwal adalah kondisi hati seorang muslim menuju kesucian hati yang didapatkan dalam setiap tingkatan al-Maqamat.
Dari buku ini didapat bahwasanya perjalanan menuju seorang sufi memerlukan proses dengan meraih setiap tingkatan yang ada dengan kondisi hati sesuai kepada al-Ahwal yang berlaku diantaranya al-muqarabah, al-qurb, al-mahabbah, al-khauf, al-raja, al-haya, al syawq, al-thuma’ninah , al-yaqin, dan al-musyahadah.


BUKU 2                     : Akhlak Tasawuf (Pengenalan, Pemahaman, dan Pengaplikasiannya)
IdentitasBuku            : Nasution, Ahmad Bangun, Haji&Siregar Royani Hanum,Akhlak Tasawuf  
                                       (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 2013)
Sub 1 : Definisi Maqam
Pembahasan tentang maqam dan ahwal termuat dalam BAB 7 Halaman 47.
Maqam adalah tingkatan seorang hamba dihadapannya tidak lain merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap, inilah yang membedakannya dengan keadaan spiritual (ahwal) yang bersifat sementara(Nasution, Ahmad Bangun, Haji,Akhlak Tasawuf : 2013,47).

Sub 2 :Pondasi Maqam
Menurut buku ini, pondasi dari Maqam diambil dari 4 pondasi dalam iman (Ali bin Abi Thalib) yakni , kesabaran (shabr), keyakinan (yaqin) , keadilan (‘adl) dan perjuangan (jihad). Dapat disimpulkan bahwasanya, pondasi atau dasar dalam meraih tiap tingkatan Maqam menurut buku ini ialah diharuskan kepada setiap muslim yang menjalaninya harus menguasai ke empat hal tersebut , yaitu :
1.      Kesabaran (shabr)
Mampu sabar dalam menjalani segala macam cobaan yang muncul pada setiap tingkatannya
2.      Keyakinan (al-Yaqin)
Yakin dalam arti mempercayai dengan sesungguhnya bahwasanya kelak akan mendapat kemudahan dari Allah Swt.
3.      Keadilan (‘adl)
Adil dalam menyikapinya
4.      Perjuangan (Jihad)
Penuh perjuangan dalam usaha meraih setiap tingkatannya.
Sub 3 :Hirarki
Hirarki yang akan diuraikan dibawah ini adalah mengenai al-ahwal, yaitu keadaan hati seorang salik (pejuang menuju sufi) yang tersedia dalam setiap tingkatan al-Maqamat, tidak lagi memaparkan tentang hirarki dari maqam karena pada pembahasan buku sebelumnya telah diuraikan beberapa tingkatan dalam hal maqamat seorang sufi.
Beberapa macam al-ahwal tersebut ialah :
1.      Khauf
Takut Kepada Allah
2.      Raja’
Memiliki rasa keyakinan seperti raja yang optimis dalam memperoleh rahmat ilahi.
3.      Syauq
Tertanam rasa rindu dalam hati kepada Allah Swt.
4.      Uns
Mulai merasa akrab dan lebih intim kepada Allah Swt.
5.      Mahabah
Merasakan cinta yang tumbuh kepada Allah Swt.
6.      Yaqin
Sudah kokoh dan yakin kepada Allah Swt. tidak dapat terusik kembali, sehingga telah dekat secara sempurna kepada Allah Swt.


Kesimpulan
Buku kedua Akhlak Tasawuf karya Drs. H. Ahmad Bangun Nasution dan Dra. Hj. Royani Hanum Siregar, M.H dari segi definisi memberikan pengertian yang sama tentang al-Maqamat seperti yang dituangkan dalam buku gerbang tasawuf karya Dr. Ja’far, M.A
Pondasi dalam maqamat menuju Allah Swt. diambil dari kajian Ali bin Abi Thalib tentang 4 pondasi dasar dari iman yang kemudian disesuaikan dengan tujuan pembahasan al-maqamat sehingga menjadi sama dalam hal pondasi.
Kondisi hati seorang salik(pejuang sufi) juga memiliki beberapa tingkatan sesuai dengan hasil pencapaiannya pada setiap tingkatan perjalanan (maqam) menuju Allah Swt.

PERBANDINGAN  :
            Dari segi konteks topik bahasan tentang definisi, pondasi dan hirarki daripadai al-maqamat dan al-ahwal untuk tema pertama tentang maqamat, buku pertama Gerbang Tasawuf karya Dr. Ja’far, M.A mengambil fokus pada beberapa pendapat kaum – kaum sufi sampai kepada tokoh – tokoh pemuka agama pada masa lampau yang mengedepankan pembahasan tentang cerita bagaimana apa itu tentang tingkatan – tingkatan yang ada dalam proses pendekatan diri kepada Allah Swt. dan kondisi hati yang seperti apa yang akan didapatkan dari hasil pencapaian pada setiap tingkatan yang ada.

Untuk buku kedua Akhlak Tasawuf karya Drs. H. Ahmad Bangun Nasution dan Dra. Hj. Royani Hanum Siregar, M.H, lebih ringkas dalam penjabaran definisi dan pondasi tentang maqamat. Lebih berfokus kepada penjelasan – penjelasan mengenai tingkatan – tingkatan yang ada dalam perjalananya dan menjelaskan kondisi seperti apa saja yang akan didapatkan pada setiap tingkatan tersebut dengan beberapa uraian singkat tentang bagaimana kondisi tersebut.


0 comments: